Pengawetan Daging
Daging sebagai hasil proses biokimia
dan biofisika dari otot setelah ternak dipotong, merupakan keadaan dimana
daging memerlukan penanganan karena merupakan media tumbuh bagi mikroorganisme
jika tidak dilakukan penanganan, maka untuk mencegah perbanyakan mikroorganisme
khususnya bakteri yang dapat menyebabkan kerusakan atau pembusukan daging dalam
waktu yang sangat cepat.
Teknik pengawetan daging yang sering
digunakan pada karkas daging dan daging pascarigor adalah penggunaan suhu
rendah yakni pendinginan dan pembekuan. Pendinginan pada suhu 2- 50c
pada karkas dan daging selain berfungsi sebagai memperpanjang daya sumpan juga
dapat meningkatkan kualitas daging melalui peningkatan keempukan dan flavor.
Pendinginan memungkinkan untuk
menyimpan daging dalam waktu tertentu berkat aksinya dalam menghambat
perkembangan bakteri tanpa membunuh bakteri. Oleh karena itu sangat penting
diperhatikan bahwa suhu dingin sebaiknya secepat mungkin dioperasikan setelah
ternak dipotong dan agar daging/karkas sekurang mungkin dicemari/terkontaminasi
oleh bakteri selama proses pemotongan. Ini dimaksudkan untuk mendapatkan daging
dengan kualitas higienis yang baik.
Pendinginan dimaksudkan pula untuk
meningkatkan kualitas daging terutama keempukan dan citarasa yang terjadi
selama proses penyimpanan karena adanya maturasi pada daging. Seperti pula
diketahui bahwa suhu karkas berkisar 35 – 37° C pada akhir proses pemotongan
maka peranan pendinginan cukup penting didalam menurunkan suhu karkas tersebut
agar dapat disimpan pada suhu sekitar 0 - +2° C. Pendinginan karkas dengan
menggunakan suhu mendekati titik nol (0 – 5° C) pada suhu karkas masih tinggi ,
dimana pada saat itu karkas masih dalam kondisi pra rigor, dapat mengakibatkan
kelainan mutu daging yang dikenal dengan nama cold shortening atau pengkerutan
karena dingin. Pengkerutan akibat dingin menyebabkan otot memendek bisa
mencapai 50 % dan daging menjadi keras dan kehilangan cukup cairan yang berarti
selama pemasakan.
Pada tahap pertama, karkas didinginkan
pada suhu dimana persentase pengkerutan paling minimal, berdasarkan penelitian
Locker dan Hagyard (1963) untuk memperoleh pengekerutan minimal sebaiknya
daging didinginkan pada suhu antara 14 – 19° C selama 24 jam pertama dimana
pada saat tersebut rigor mortis telah terbentuk. Kecepatan terbentuknya rigor
mortis sangat tergantung pada suhu dan kondisi ternak pada saat disembelih.
Locker dan Daines (1975) memperlihatkan waktu yang dibutuhkan untuk
terbentuknya rigor mortis pada otot Sternomandibularis pada suhu 37° C, 34° C,
24° C, dan 15° C, masing-masing secara
berurutan 7 jam, 10 jam, 12 jam, dan 24 jam. Rigor mortis dapat pula terbentuk
dalam waktu yang cepat pada ternak-ternak yang telah kekurangan atau kehabisan
glikogen akibat habis terkuras karena perlakuan-perlakuan yang keras sebelum
pemotongan dilakukan.
Cold shortening yang terjadi karena
pendinginan yang cepat dengan suhu sangat rendah pada karkas terutama pada
potongan-potongan karkas dan daging mengakibatkan kealotan yang berarti.
Karkas yang telah mengalami rigor
mortis, kemudian disimpan pada kamar pendingin (+ 2° C) selama beberapa hari. Selama penyimpanan
ini terjadi maturasi yakni proses transformasi kimia didalam otot dan
memperlihatkan efek terhadap perbaikan keempukan daging secara progresif sampai
tingkat optimal. Keadaan dimana daging menjadi matang, pada tingkat inilah
daging sebaiknya dikonsumsi.
Untuk memperoleh tingkat maturasi yang
baik, pada umumnya karkas sapi disimpan antara 10 – 15 hari pada suhu + 2° C
sebelum daging tersebut di konsumsi. Untuk praktisnya, maturasi biasanya
berlangsung selama 7 – 8 hari dengan alasan ekonomi. Hal mana tidaklah cukup
dari segi teknisnya. simpanan pada suhu
mendekati 2 C°.
Pembekuan merupakan tahap selanjutnya
dari penyimpanan daging setelah karkas melalui proses maturasi (aging) yang
optimal dimana proses komplet rigor mortis telah terpenuhi. Hal ini dimaksudkan
untuk mencegah timbulnya cold shortening dan thaw rigor pada saat daging
dicairkan dari kristal es yang meliputinya sebelum dimasak.
Untuk pengawetan daging dengan
menggunakan suhu sangat rendah, maka potongan – potongan karkas terlebih dahulu
harus dikeluarkan tulang-tulangnya dan menghilangkan lemak dipermukaan
karkas/daging, sehingga benar-benar daging yang dibekukan. Ini dimaksudkan
selain untuk efisiensi tempat, juga dimaksudkan untuk menghindari peruabahan –
perubahan yang dapat terjadi pada daging selama penyimpanan terutama lemak, pada
suhu rendah masih dapat mengalami proses ketengikan.
Untuk mendapatkan hasil/kualitas yang
baik selama pembekuan maka perlu diperhatikan hal-hal berikut :
·
Penggunaan
suhu pembekuan cepat (- 36° C) atau sangat cepat (- 40° C) pada karkas atau
daging yang telah mengalami maturasi.
·
Menyimpan
daging beku pada suhu rendah (-18° C).
·
Menghindari
variasi suhu selama penyimpanan.
·
Menghindari
pembekuan atau thawing secara berturut-turut.
·
Thawing
dilakukan secara lambat pada suhu + 1° C.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar